Dewan Kerajaan Kesultanan Adat Nusantara (DEKKAN) melakukan silaturrahmi dan Kerjasama dengan Keluarga Pertubuhan Pengasas Usahawan Muda Johor.

Avatar

Loading

Detektor.news | JAKARTA–Dewan Kerajaan Kesultanan Adat Nusantara (DEKKAN) melakukan silaturrahmi dan Kerjasama dengan Keluarga Pertubuhan Pengasas Usahawan Muda Johor.

Sekretaris Jenderal DEKKAN Pangeran Muda Kerajaan Parigi YM Paduka Tuan Andi Muhammad Oza Tagunu mengatakan bahwa tujuan dari silaturrahmi DEKKAN dengan Pertubuhan Pengasas Usahawan Muda Johor adalah membangun komitmen dan menjaga serta melestarikan adat budaya Nusantara serumpun.

Menurut Pangeran Parigi, menjaga dan melestarikan adat budaya Nusantara Serumpun diyakini mampu memperkuat dan mengokohkan nilai-nilai leluhur nusantara sebagai benteng hidup dari gempuran budaya-budaya asing yang ingin merusak persaudaraan nusantara. Ucap Pangeran Parigi Andi Muhammad Oza Tagunu.

“kedepan dalam waktu baik insyaallah akan adakan event yang bertajuk The Heart Of Nusantara yang bertujuan membangun silaturrahmi antara para Raja Sultan Nusantara di Indonesia dan juga Malaysia”, Tambah Pangeran Parigi Andi Muhammad Oza Tagunu

Dalam pertemuan tersebut dihadiri Sekretaris Jenderal DEKKAN YM. Paduka Tuan Pangeran Andi Muhammad Oza Tagunu dari Kerajaan Parigi Sulawesi Tengah, Ketua Umum DEKKAN YM. Raja Pangeran John FE South Kansil dari Kerajaan Siau Sulawesi Utara, WaBendum DEKKAN, YM. Ayu Dewi Hapsari dan Naib Presiden PPUMJ YM Puteri Tujuh Nurul Huda Binti Ariffin & Keluarga.

Acara kemudian dilanjutkan melakukan kunjungan dan silaturrahmi ke Keraton Sumedang Larang di Terima Oleh YM Sri Radya H. Raden Ikik Lukman Soemadisoeria dan Keraton Kasepuhan Cirebon di Terima Oleh YM. Raden H Rahardjo Djali, Jawa Barat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut YM Ray Dewi Rengganis dari Keraton Kacirebonan dan YM Mayor Iriani Watu laga, Kerajaan Siau, Sulawesi Utara. (Suhermin)

BACA JUGA:  *OPINI PUBLIK:“150 MILYAR ISLAMIC CENTER YANG SEHARUSNYA MENJADI SIMBOL KETAKWAAN & KEMULIAAN ATAU MENJADI MONUMEN KEGAGALAN MORAL BIROKRASI JAMBI”*