OPINI  

Menakar Nasionalisme Agar Tak Mati di Lumbung Padi

Redaksi
banner 468x60

Loading

Bak pepatah mengatakan “Tikus mati di lumbung padi”, memang suatu hal yang ironis, matinya seekor tikus di lumbung makanan yang berlimpah.

Mungkin ini yang bisa menggambarkan Indonesia, memiliki kekayaan alam yang berlimpah, namun tidak juga membuat rakyatnya sejahtera. Jika ditelusuri lebih jauh maka kita akan mendapatkan suatu fenomena dimana tidak ada satu provinsipun di Indonesia yang tidak memiliki kekayaan alamnya sendiri, semua memiliki hasil bumi yang beraneka ragam mulai dari pertambangan, perkebunan hingga pertanian. Kita ambil contoh hasil kekayaan alam dari provinsi yang berada di kepulauan sumatera, Aceh yang kaya dengan perak, emas dan minyak bumi. Sumut yang kaya dengan gas alam dan minyak bumi. Sumbar dengan belerang dan batu bara. Kepri dengan minyak bumi, bauksit dan timah. Riau dengan timah. Jambi dengan timah, emas dan batu bara, Babel dengan bauksit dan timah. Sumsel dengan minyak bumi dan batu bara dan Lampung dengan granit, batu kapur, gas alam dan emas, begitupun provinsi yang ada di kepulauan lainnya.

Belum lagi jika kita bandingkan Luas daerah dengan luas wilayah yang terpakai oleh masyarakat yang menempatin daerah tersebut rata-rata hanya mencapai seperempatnya saja, artinya masih banyak lagi wilayah yang belum tergarap secara maksimal, dan kita belum tau kekayaan apa lagi yang terkandung di dalamnya. Namun sekali lagi kenapa harus ada tikus mati dilumbung padi ? mati dalam analogi beratnya beban hidup disebuah negara yang kaya  dengan hasil bumi yang berlimpah.

Nasionalisme

Menurut Ernest Renan, Nasionalisme adalah suatu keinginan besar untuk mewujudkan persatuan dalam bernegara. Dengan adanya persatuan ini maka kondisi negara akan menjadi kuat dan tidak mudah diguncang dengan masalah dari dalam maupun dari luar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa.

Kekayaan yang berlimpah namun tidak juga mendatangkan kesejahteraan di Indonesia bisa jadi oleh karena miskinnya rasa Nasionalisme. Rasa nasionalisme mutlak harus dimiliki oleh setiap pemimpin dan juga harus selalu hidup subur di setiap hati sanubari kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, karena nasionalisme adalah sikap dan rasa yang dibangun dalam paradigma mencintai tanah air dan bangsanya sendiri untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Mencintai tanah air sangat berbeda dengan mencintai pemimpin, karena orang yang mencintai pemimpin belum tentu mencintai tanah airnya.

Kita telah melewati 12 kali pemilu di Indonesia terhitung sejak pemilu pertama di tahun 1955 hingga 2019. Setiap pemilu melahirkan seorang pemimpin terpilih yaitu presiden. Selanjutnya seorang presiden akan mengemban amanah konstitusional untuk memimpin negara hingga 5 tahun kedepan. Diantara jasa ataupun kelebihan dari seorang presiden terpilih terdapat pula kekurangannya. Di Indonesia kecendrungan mencintai seorang pemimpin melebihi rasa cintanya kepada tanah air ataupun negaranya sendiri hingga dukungan terhadap seorang presiden menjadi membabi buta tanpa melihat lagi kesalahan yang ada disana, sikap ini bukanlah sikap seorang Nasionalis karena mencintai seorang pemimpin melebihi kecintaannya terhadap tanah airnya adalah suatu sikap yang pada dasarnya hanya mencintai pemimpin pada kelompoknya sendiri hingga terjadilah pengkotaan, kubu-kubuan, gab antar kelompok. Dalam situasi seperti ini disadari atau tidak bahwa kita tidak lagi hidup dalam suatu¬† konstitusi bernegara, karena telah hilangnya rasa Nasionalisme, kita hanya hidup pada kelompok kita masing-masing. Harta yang berlimpah dari sumber kekayaan alam yang ada di negeri ini hanya akan mengalir kepada kelompok-kelompok pemenang dalam setiap pemilu dan hanya menetes pada kelompok lainnya dalam framing “Bantuan Masyarakat Miskin ataupun BLT”, Kesenjanganpun terjadi disana sini, dari kesenjangan hukum, sosial, budaya dan moral.

Sebentar lagi kita akan berada di penghujung tahun pemilu ke 13 dalam sejarah Republik Indonesia, bercerminlah, sebesar apa kita memiliki rasa Nasionalime ini, sehebat apa kita mencintai negeri ini dan sepeduli apa kita terhadap saudara kita yang berjumlah 270 juta jiwa lebih. Akankah kita lebih memilih kelompok kita sendiri, atau semua demi bangsa indonesia. Siapapun yang terpilih nanti kita wajib mencintainya, namun tidak lebih dari rasa cinta kita kepada tanah air kita, tidak lebih dari rasa cinta kita terhadap negara kita. Tetaplah kita dukung untuk kebijakan yang benar dan terbaik buat bangsa ini, jika tidak tetaplah kita nyatakan tidak walau dia adalah orang tua kita, anak kita, menantu kita, adik ipar kita, besan kita dan kelompok kita apalagi sampai harus mengubah undang-undang hanya demi kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya sendiri. Karena kita adalah Indonesia, bukan Jokowi dan Jokowi bukan kita, kita bukanlah Anies dan anies bukan kita, kita bukan Ganjar dan Ganjar bukan kita dan Prabowo, Prabowo bukan kita dan kita bukanlah Prabowo. Semoga Indonesia akan mendapatkan Presiden yang terbaik yang benar- benar memiliki rasa Nasionalisme yang Tinggi, Tulus, Murni dan Bersih dari segala kepentingan pribadi, dinasty dan kelompok tertentu hingga kekayaan bumi dari negara yang kita cintai ini dapat kita nikmati bersama demi kesejahteraan bersama, tidak lagi seperti Tikus Mati dilumbung Padi. Wallahu’alam.

Berliansyah, SE

(Ketua DPD AWPI Prov. Jambi)